Sepakbola Gajah 1998 (Indonesia v Thailand)

Posted on December 14, 2010

3



Oleh : Fajar Hasanul Luthfi

Indonesia kalah lebih dari kekalahan

masih segar dalam semangat Piala AFF 2010 kali ini dengan host nya Indonesia dan Vietnam, sebagai penulis sengaja saya ingin mengulas sedikit flashback kisah suram per-sepakbolaan Indonesia di tahun 1998. Masih ingatkah tragedi 1998 yang memilukan, memalukan sekaligus melukai integritas bangsa indonesia? jawabannya bukanlah tragedi kerusuhan mei 1998, tetapi ya, sepakbola gajah pada piala tiger (sekarang AFF cup) di vietnam 31 agustus 1998 lalu.

Ibaratnya gajah sedang bermain sepakbola yang tidak tahu mana gawang lawan dan mana gawang kawan. Berkat “sepakbola gajah” itulah per-sepakbolaan indonesia berhasil memasuki pentas dunia, sungguh ironis bukannya terkenal dengan prestasinya tetapi dengan kehebatan para pemain kita dilapangan kala itu yang membuat dunia bergoncang dengan gemuruh tawa. Sebuah peristiwa yang memalukan, hal tersebut jelas telah menodai jiwa semangat sepakbola dunia.

Pertandingan tersebut mempertemukan Indonesia melawan Thailand, bertempat di stadion Thong Nat, Ho Chi Minh City, Vietnam, Saat itu indonesia dan thailand sama-sama memainkan pertandingan terakhirnya pada babak penyisihan di grup A bahkan indonesia dan thailand sama-sama telah memastikan lolos ke semifinal piala tiger kala itu, kebetulan pada waktu itu indonesia menjadi pemimpin klasemen sementara sedangkan thailand berada di urutan kedua namun poin yang mereka raih sama, hanya saja berbeda selisih gol.

Pada awal pertandingan tempo permainan berjalan lambat, anehnya bahkan kedua tim seperti tak punya nafsu untuk memenangkan pertandingan, lebih parahnya lagi~kedua tim terlihat seakan ingin menjadi tim yang kalah pada pertandingan tersebut saat itu. Mengapa demikian? Kedua tim ternyata takut dan ingin menghindari tuan rumah Vietnam bila harus bertemu pada babak semifinal, baik Indonesia maupun Thailand sama-sama mengincar posisi kedua di grup A. karena aturan pertandingan babak semifinal yaitu juara grup A akan berhadapan dengan runner-up grup B dan runner-up grup A akan berhadapan dengan juara grup B. Kebetulan Vietnam saat itu berada di posisi runner-up grup B yang tinggal menunggu siapa juara grup A yang akan dihadapinya di semifinal.

Dengan dukungan suporternya yang luar biasa, permainan timnas vietnam tampil perkasa ,superior, trengginas melibas lawan-lawannya di babak penyisihan, Vietnam bagaikan iblis kejam yang liar, aroma sang penjagal maut rasanya telah tercium jauh hari oleh Timnas Indonesia dan Thailand. Hal itulah yang membuat kedua tim ketakutan bila harus bertemu tuan rumah vietnam di semifinal, Indonesia dan Thailand lebih memilih Singapura yang ingin dihadapinya di semifinal karena saat itu timnas Singapura dinilai merupakan tim yang lemah dan dianggap mudah untuk dikalahkan.

Dengan raihan poin yang sama, Thailand sebenarnya hanya membutuhkan hasil imbang saja agar dapat tetap bertahan di posisi kedua supaya di semifinal bisa bertemu dengan jawara grup B yakni singapura, keadaan yang berat justru terjadi pada Indonesia, Indonesia harus kalah jika tidak ingin berjumpa dengan Vietnam di babak semifinal.

Ketika skor pertandingan masih sama kuat 2-2, suatu saat para pemain Indonesia kesal dengan ulah para pemain Thailand yang tak serius dalam bermain kala itu karena target mereka cukup seri saja, hingga pada akhirnya timnas Indonesia yang sedang ketar-ketir ketakutan bila harus berhadapan dengan Vietnam di babak semifinal bergantian menguasai bola, para pemain timnas Indonesia lebih banyak memainkan bola di daerahnya sendiri agar pemain thailand terpancing untuk menyerang sehingga bola mudah direbut oleh pemain Thailand, namun rasanya strategi tersebut tidak berhasil. Saking kesalnya, permainan negatif pun diperagakan oleh Timnas Indonesia, diawali dengan lemparan ke dalam oleh Uston Nawawi kepada Aji Santoso lalu bola diberikan kepada Mursyid Effendy kemudian di passing kepada miro baldo bento terus diberikan kepada Kuncoro setelah itu bola pun dikembalikan lagi ke kaki Mursyid Effendy yang tengah berdiri bebas dekat gawang Indonesia tanpa ada pemain thailand yang mengawal.

Dengan satu sentuhan saja saat itu pun mursyid effendy melakukan tendangan sedikit melambung ke kegawang sendiri, bahkan kiper yang menjaga gawang saat itu hanya berdiam mempersilahkan bola masuk ke gawang nya, Mursyid dan pemain Indonesia lainnya pun langsung melakukan sebuah selebrasi kecil-kecilan berupa tepuk tangan diiringi dengan senyuman manis. Sungguh sebuah gol yang indah yang rela mengorbankan harga diri bangsa Indonesia Gol tersebut membuat skor 3-2 untuk keunggulan Thailand dan bertahan hingga pertandingan usai, kemenangan pun akhirnya dimiliki oleh Thailand, tampak terlihat senyum kebahagiaan para pemain Indonesia di layar kaca yang kala itu disiarkan langsung oleh stasiun televisi swasta, antv. Senyuman yang melegakan bagi mereka namun memalukan bagi rakyat indonesia. dengan kekalahan itu akhirnya indonesia berhasil menyingkirkan rasa takutnya pada timnas Vietnam kala itu, sebaliknya thailand harus menyiapkan “kuburannya” karena harus berhadapan dengan timnas Vietnam.

Seusai pertandingan menggelikan tersebut, ketua umum PSSI kala itu, Azwar Anas merasa yakin dengan tidak akan adanya sanksi bagi parodi lawak yang dilakukan para pemain indonesia di lapangan berkenaan dengan pertandingan gajah yang mencoret citra semangat sepakbola dunia. Dengan enteng pejabat era orde-baru tersebut melontarkan pernyataan “Tak ada aturan yang melarang sebuah tim sepakbola untuk kalah. Saya yakin tak akan ada teguran baik dari AFF maupun AFC karena hal ini,ujarnya kala itu.

Namun ucapan orang nomor satu di PSSI kala itu ternyata salah besar, ucapan tersebut hanya menjadi sebuah kekonyolan yang tak kalah konyolnya dengan pertandingannya, nyatanya indonesia harus membayar denda sebesar 40 ribu dollar AS, memang itu sebuah sanksi yang tidak begitu berat tapi pertandingan sepakbola bak gajah tersebut mencerminkan buramnya potret per-sepakbolaan di tanah air hingga menjatuhkan harga diri bangsa.

Sampailah pada babak semifinal. seakan dihinggapi oleh sebuah karma, ternyata Indonesia dan Thailand sama-sama kalah pada pertandingan semifinal, indonesia yang diprediksikan akan menang mudah menghadapi timnas singapura ternyata harus mengakui kehebatan lawannya.

Akhirnya pertandingan final piala tiger 1998 pun mempertemukan vietnam dan singapura untuk saling berhadapan, ajaibnya saat itu singapura lah yang menjadi juara turnamen 2 tahunan tersebut. Indonesia harus puas menjadi juara ketiga seteleh pada pertandingan perebutan juara ketiga~indonesia menang adu penalti melawan thailand setelah 120 menit sebelumnya kedua tim bermain imbang 3-3.

Sebagai bangsa Indonesia kita pasti merasa malu, pertandingan tersebut merupakan pertandingan yang sangat memalukan dan memilukan bagi per-sepakbolaan tanah air, apalagi pertandingan itu terjadi pada event internasional yang tentunya bisa disaksikan oleh penduduk dari belahan dunia manapun. Indonesia menjadi terkenal kala itu, majalah olahraga terkemuka di amerika, “sport illustrated” kala itu menulis berkali-kali apa yang terjadi pada pertandingan paling menggelikan yang membuat manusia di planet bumi ini terguling-guling habis-habisan. Bahkan majalah tersebut rela mengorbankan kolom berita utamanya untuk menjadikan pertandingan tersebut sebagai bahan lelucon publik pecinta sepakbla dunia khususnya amerika sebagai sajian utamanya.

Setelah kejadian memalukan tersebut, Azwar Anas langsung mengundurkan diri sebagai ketua umum PSSI, posisinya digantikan oleh agum gumelar. Dan, sang pencetak gol bunuh diri Mursyid Effendy mendapatkan hukuman telak yaitu tidak boleh aktif dalam dunia per-sepakbolaan di kancah internasional seumur hidup.

Semua bertanya, siapa sebenarnya dalang dari semua tragedi ini? Sampai saat ini masih belum diketahui mengapa para pemain mengikuti sebuah instruksi yang konyol itu, yang berujung kekecewaan yang mendalam bagi rakyat Indonesia sehingga dampaknya memalukan dan melukai hati bangsa Indonesia.

Inikah mentalitas bangsa Indonesia hingga sekarang?