Nasionalisme Pemuda Luntur Akibat Disibukan Gaya Hidup

Posted on June 1, 2012

0



Realita sistem pemerintahan yang tak berwibawa, menjadikan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) terpelihara di semua jenjang birokrasi. Hal demikian, tentunya akan berimplikasi pada kemiskinan ekonomi rakyat yang kini sudah menjadi problem sosial terbesar sejak puluhan tahun. Lalu, ketika sistem dan aparatur negara sudah demikian busuknya, KKN menjadi tradisi, dan materi yang melemaskan tegasnya hukum negeri dibiarkan bernafas membaui rakyat. Siapa yang pantas menjadi garda terdepan untuk membunuh sang pembunuh rakyat tersebut? Jawabannya adalah pemuda.

Mengapa harus pemuda? Sebenarnya memang, dialam kehidupan Negara yang demokratis ini, sejatinya kekuasaan secara terminologi dipegang penuh rakyatnya sendiri: Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Konkritnya lewat lembaga perwakilan rakyat. Tapi sayang, yang ada kini lembaga legislatif diliputi banyak kasus –dari korupsi hingga video porno yang melibatkan anggotanya sendiri, juga mencoloknya debat politis untuk kepentingan fraksi, citra, dan partai— yang tidak mencerminkan seorang wakil sehingga berbuntut pada berkurangnya kepercayaan rakyat.

Selain lembaga wakil rakyat, ada Pers dengan fungsi watchdog-nya (anjing penjaga pelaksanaan pemerintahan) yang menyempurnakan konsep empat pilar demokrasi. Tapi rakyat tentu akan skeptis bila melihat Pers  nasional sebagai penyambung lidah, penyuara ungkapan rakyat pada pemerintah, justru dimiliki oleh elite politik. Ujung-ujungnya juga sama, rakyat kurang percaya dengan kebenaran Pers karena curiga akan kepentingan politik terselubung demi propaganda mempermainkan opini publik, meskipun tidak semua lembaga Pers dimiliki oleh elite berkepentingan.

Kemudian ada lembaga baru, tapi ini hanya menyoroti sebuah dampak dari sistem saja, yakni Komisi Pemberantasan Korupsi yang coba memberangus korupsi. Ini institusi yang tidak dapat atau tidak dalam domainnya bisa mengubur sistem beserta aparatnya yang busuk.

Jika isntrumen Negara diatas kurang kuat,  maka pemuda-lah yang maju menjadi sosok pahlawan terdepan bagi perubahan bangsa yang selanjutnya akan menjadi generasi penerus bangsa. Kerasnya, derasnya, emosionalnya, radikalnya kritikan dan gerakan yang dilakukan untuk pemerintah mampu membuat penguasa terbirit-birit menyembunyikan kongkalikong kepentingan golongan. Apalagi, jika animo pemuda yang berjumlah banyak juga serentak. Tengok, tak ayal seorang diktator Soeharto (alm) pun beserta rezimnya digulingkan dari istana kepresidenan. Semua yang dilakukan oleh pemuda ini merupakan bentuk kecintaan dan pengabdian pada negara, atau yang biasa disebut jiwa  nasionalisme. Mereka melakukan hal ini untuk kebaikan bangsa dan negaranya.

Tapi, fakta saat ini tak berbicara demikian. Jumlah pemuda yang kritis peduli akan kondisi dan nasib bangsa dapat dikatakan berkurang, lebih sedikit dibanding aparatur negara yang menjadikan pemuda akhirnya dikerdilkan; dieksploitasi lewat tindakan represif aparat, alhasil suara mereka hanya masuk kuping kiri untuk keluar kuping kanan penguasa.

Pemuda saat ini, terbilang apatis akan keadaan rakyat dan negara, bahkan dirinya sendiri. Mereka lebih memilih tidur, nongkrong, bersenang-senang dalam kesehariannya ketimbang membaca buku dan aktivitas-aktivitas yang konstruktif bagi masa depan dan bangsanya. Jelas, sikap pemuda demikian itu mengarah pada gaya hidup hedonistik –mengutamakan kesenangan sebagai tujuan hidup dan menjauhi dari hal-hal yang menyulitkan sekalipun ujungnya akan baik. Apa yang menyebabkan pemuda yang sejatinya merupakan generasi penerus bangsa ini, menjadi seperti itu? Pada hematnya penulis menuduh gaya hidup sebagai biangnya,  dan musabab kemunculan gaya hidup sendiri lahir dari globalisasi informasi, ekonomi, dan sistem pendidikan bangsa yang lemah.

Globalisasi sendiri khususnya dalam sektor informasi, merupakan suatu proses di mana antar individu, antar kelompok, dan antar negara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan memengaruhi satu sama lain yang melintasi batas Negara. Media massa baik itu televisi, radio, handphone, komputer, internet, dsb merupakan karya teknologi informasi modern saat ini. Globalisasi informasi menghendaki terbukanya arus informasi dari media massa, dan ini membuat publik sang pengakses terbebas dari segala batas untuk memenuhi hasrat keingintahuannya. Termasuk ingin mengetahui seperti apa kehidupan masyarakat di Negara lain.

Saat ini, entah mengapa pemuda kita memuja gaya hidup ke barat-baratan. Barangkali ini merupakan pengaruh media pula yang berhasil membentuk persepsi, opini, sikap bangsa kita. Media massa yang didalamnya melulu menampilkan karya seni atau segala simbol budaya dari barat seperi film, musik, pakaian, teknologi, dsb, telah menjadikan bangsa kita terkagum-kagum melihat keindahannya. Meskipun tak kita nafikan bahwa budaya barat terbilang memang lebih maju dan terkesan modern sehingga sepakatlah bahwa kebudayaan barat itu bagus.

Seiring berjalannya arus perkembangan informasi di media, semakin deras pula kebudayaan luar menjadi tontonan pemuda kita. Tak pelak jika pemuda kita kemudian meniru gaya-gayanya, apalagi globalisasi informasi yang menebar budaya dominan didalamnya, diperkuat pula oleh adanya globalisasi ekonomi: pasar bebas. Kesukaan pemuda bangsa indonesia akan karya simbolik budaya luar difasilitasi oleh pasar yang menjual komoditi budaya yang dibutuhkan oleh pemuda. Jadi, dapat dikatakan bahwa pemuda kita atau lebih luasnya bangsa kita, sedang dicekoki oleh kegemerlapan gaya hidup barat yang bernilai modern lewat pasar bebas.

Pemujaannya terhadap barang budaya luar tersebut menciptakan gaya hidup baru, juga menciptakan budaya konsumerisme dari bangsa kita. Lihat fakta yang ada, karena pandangannya yang mengagungkan budaya barat, barang-barang impor menjadi serbuan utama konsumen. Bahkan, pernah diangkat dalam berita nasional yang mengabarkan, datangnya barang impor itu disambut antrean konsumen sampai berdesak-desakan hingga menimbulkan korban pingsan.

Memang globalisasi informasi semacam itu tak sepenuhnya buruk. Arus informasi yang didapat dari luar, menghadapkan kita pada pertemuan dua budaya: antara budaya kita dan budaya mereka. Bila meninjau aspek ekonomi ini, ada juga masyarakat kita yang mampu menyerap kebudayaan barat untuk menjadi bahan inovasi produksi lokalnya. Artinya, banyak hasil industri kita tereferensikan pada hasil produk barat untuk meningkatkan daya tarik, contohnya pakaian. Hal itu, meski meningkatkan bungkus karya asli buatan anak negeri, tapi tetap gayanya terdominasikan oleh barat.

Sisi ekonomi dari globalisasi informasi ini tentu memberi pengaruh bagi aspek sosialnya. Misal saja pakaian buatan negeri sendiri tadi. Meskipun diminati, tetap akan berdampak buruk karena peningkatannya malah memantapkan gaya hidup, dan juga justru memperkuat konsumerisme bagi bangsa; khususnya pemuda.

Semakin kesini cekokan barang budaya lewat media dan pasar tak ada hentinya. fakta berbicara bahwa semakin ada yang baru, pemuda kita semakin tertarik memilikinya karena ingin menunjukan eksistensinya sebagai manusia yang beridentitas modern (up-to-date). Akhirnya terciptalah kesibukan baru pemuda saat ini, mereka yang bergaya hidup; bersekolah, kuliah, bekerja untuk belanja dan, belanja untuk sekolah, kuliah, bekerja. Sangat miris dengan kondisi seperti itu yang akan membahayakan generasi bangsa, apalagi, kenyataan globalisasi ekonomi yang memasok komoditi budaya barat hanya berputar diarah produksi dan konsumsi belaka, dan tidak ada pencerdasannya.

Kesibukan nyata itulah yang membuat pemuda lupa akan tugasnya, yaitu menempa diri untuk menempuh masa depan juga sebagai pemerhati kondisi suatu bangsa. Mereka yang seharusnya teriak melihat ketidakadilan malah teriak untuk berebut handphone, celana jeans, dsb. Dengan demikian, jiwa humanis pemuda yang merupakan dasar pandangan agar berjiwa nasionalis, cinta pada bangsa dan negara telah dikikis oleh gaya hidup. Siapa yang salah karena ini?

Tetap saja salah pemerintah, terutama pada sektor kebijakan tentang dunia pendidikan bangsa. Globalisasi, khusus dalam hal ini teknologi informasinya bukanlah suatu kenyataan yang bisa kita hindari. Bagaimanapun juga, perkembangan teknologi tetap dibutuhkan untuk manusia agar dapat mengatur kehidupannya sendiri. Tapi di negara kita, terjadi ketidak seimbangan antara dampak negatif globalisasi dan dampak positif pendidikan kita: kontak budaya asing malah melemahkan budaya lokal dan kepribadian bangsa.

Seharusnya pemerintah berpikir bagaimana caranya untuk menciptakan sebuah sistem serta dasar kurikulum pendidikan yang mampu menguatkan karakter kebudayaan bangsa khususnya pelajar. Diantaranya dengan menghadirkan mata pelajaran atau perkuliahan yang mampu secara kuat menanamkan nilai moral, budaya, dan karakter berpemahaman antar budaya agar pemuda tidak terjebak dalam dominasi budaya luar dan rendah diri pada budaya sendiri.

“Tatkala mimpi manusia dengan realitasnya; cita-cita dengan faktanya; atau keinginan dengan kenyataannya tak lagi menjadi alat ukur untuk kebangkitan, manusia takan lagi bisa menjadi kritikus kehidupan”. Mungkin kutipan itu ada cocoknya untuk menggambarkan kondisi riil pemuda  indonesia saat ini: Pemuda yang mayoritas hanya mampu berangan-angan tapi tanpa tindakan tak bisa melihat kenyataan kekinian.

Posted in: Tulisan Saya